Pemerintah Akan Sahkan Regulasi Blokir Ponsel Black Market Bulan Depan

Pemerintah akan Sahkan Regulasi Blokir Ponsel Black Market Bulan Depan

Pemerintah kini tengah menunjukkan keseriusannya untuk memberantas penggunaan ponsel ilegal (BM) di Indonesia.

Pada Agustus mendatang, regulasi yang mengatur pemblokiran ponsel BM tersebut akan ditandatangani. Regulasi tersebut berbentuk peraturan menteri (permen).

Dalam hal ini setidaknya ada tiga kementerian yang terlibat, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Kementerian Perdagangan.

Menurut Janu Suryanto, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, peraturan menteri tersebut bakal ditandatangani pada pertengahan bulan depan.

Namun, ia tidak merinci seperti apa isi dan lingkup dari payung hukum tersebut.

Pemerintah kini tengah menunjukkan keseriusannya untuk memberantas penggunaan ponsel ilegal (BM) di Indonesia.

Pada Agustus mendatang, regulasi yang mengatur pemblokiran ponsel BM tersebut akan ditandatangani. Regulasi tersebut berbentuk peraturan menteri (permen).

Dalam hal ini setidaknya ada tiga kementerian yang terlibat, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Kementerian Perdagangan.

Menurut Janu Suryanto, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, peraturan menteri tersebut bakal ditandatangani pada pertengahan bulan depan.

Namun, ia tidak merinci seperti apa isi dan lingkup dari payung hukum tersebut.

“Aturannya secara detail sedang dibuat. Tanggal 17 Agustus 2019 harus tanda tangan 3 peraturan menteri terkait pemblokiran lewat IMEI,” ungkapnya.

Janu turut menyebutkan bahwa untuk menjalankan kebijakan dan aturan itu, sebuah tim khusus yang para anggotanya berasal dari ketiga kementerian akan dibentuk.

“Berdasarkan hasil rapat, segera dibentuk tim antarkementerian terkait pemblokiran lewat IMEI,” lanjutnya.

Mesin identifikasi ponsel BM Kementerian Perindustrian sendiri memiliki sebuah mesin bernama Device Identification, Registration, and Blocking System (DIRBS) yang dapat mengidentifikasi ponsel black market.

Mesin ini bekerja menggunakan nomor IMEI yang melekat pada setiap ponsel. Mekanismenya, mesin DIRBS akan memindai nomor IMEI mana saja yang terdaftar di database dan mana yang tidak.

Jika tidak terdaftar, ponsel dengan nomor IMEI tersebut akan dianggap sebagai ponsel ilegal. Kendati demikian, Janu tidak merinci apakah mesin ini akan mulai diaktifkan setelah ketiga peraturan menteri tersebut ditandatangani atau malah lebih cepat.

Sementara pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sendiri sebagai salah satu kementerian yang terlibat belum memberikan keterangan resmi terkait hal ini.

Proses pemblokiran ponsel ilegal di Indonesia ini melibatkan tiga kementerian. Kementerian Perindustrian memiliki sistem validasi IMEI yang dapat mengecek apakah ponsel tersebut ilegal atau tidak.

Sementara Kementerian Kominfo nanti akan meminta operator seluler untuk memblokir jaringan yang digunakan oleh ponsel yang teridentifikasi ilegal, dan Kementerian Perdagangan akan mengawasi perdagangan ponsel.

Pihak Kemenperin juga beberapa waktu lalu mengatakan bahwa ponsel ilegal tidak akan bisa digunakan di Indonesia.

Namun, ini tidak serta-merta berarti ponsel ilegal yang sudah beredar di konsumen (existing) bakal diblokir dari jaringan operator seluler lewat identifikasi IMEI.

Penulis : Adam Rizal

Sumber : Infokomputer

Gandeng Arab Saudi, Indonesia Perkuat Kekuatan Ekonomi Digital

Gandeng Arab Saudi, Indonesia Perkuat Ekonomi Digital dan Cetak Unicorn Baru

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara terbang ke Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka penandatanganan MoU untuk kerja sama memperkuat ekonomi digital kedua negara.

Kerja sama tersebut diharapkan akan mendorong investasi Arab Saudi di sektor digital dan pengembangan unicorn baru di Indonesia.

“Kominfo akan menggandeng sebanyak mungkin wirausahawan muda, pelaku industri startup dan UKM terpilih untuk berpartisipasi dalam kerja sama selama 5 tahun ke depan,” kata Rudiantara dalam keterangan tertulisnya.

Bagi Indonesia, kolaborasi ini bakal menodorong visi Indonesia sebagai Energi Digital Asia tahun depan.

Arab Saudi akan mendapatkan dukungan dari Indonesia untuk mencapai visi pengembangan sektor non-minyak tahun 2030.

Kedua negara juga akan bertukar informasi dan pengalaman terkait ekonomi digital, berbagi pengalaman, pengetahuan ahli, serta penetrasi produk dan teknologi digital Indonesia ke Arab Saudi.

Selain MoU, sejumlah pertemuan juga dilakukan untuk membahas rencana lain dari kolaborasi digital ini.

Di antaranya adalah Umrah Digital Enterprise, pengembangan 1.000 inovasi Digital, dan pembentukan Satgas Digital.

Dalam waktu dekat Kominfo akan mengajak NextICorn (Next Indonesian Unicorn) untuk melakukan roadshow ke Arab Saudi. Startup yang dipilih adalah mereka yang paling berpotensi mendapatkan investasi.

Selama di Riyadh, Rudiantara dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke The King Abdulaziz City for Science and Technology (KACST) dan MiSK Foundation.

Penulis : Adam Rizal

Sumber : Infokomputer

Robot akan Menggantikan Pekerjaan Manusia? Memang Iya, tapi…

Ada sebuah poster menarik dari demonstrasi Hari Buruh yang berlangsung kemarin. Poster yang dibawa salah seorang mahasiswa itu bertuliskan kegelisahan apakah mereka akan mendapat pekerjaan ketika lulus nanti. Salah satu penyebab kegelisahan ini adalah keberadaan robot, yang pemanfaatannya kini memang menjalar ke berbagai lini industri.

Namun, apakah benar lapangan pekerjaan manusia akan hilang akibat robot?

Salah satu studi yang dilakukan lembaga riset McKinsey Global Institute sedikit membenarkan kegelisahan tersebut. Studi ini memperkirakan di tahun 2030 nanti, 400-800 juta pekerja di seluruh dunia berpotensi kehilangan pekerjaan akibat adanya otomatisasi. Fyi, yang dimaksud otomatisasi adalah ketika sebuah pekerjaan dapat dikerjakan sebuah sistem komputerisasi secara otomatis tanpa membutuhkan tenaga manusia.

Besarnya jumlah tenaga kerja yang tergantikan ini tidak lepas dari semakin “pintarnya” sistem komputerisasi saat ini. Kemajuan teknologi artificial intelligence membuat banyak pekerjaan yang saat ini dikerjakan manusia bisa digantikan oleh mesin, bahkan dengan hasil yang lebih baik dan biaya lebih efisien. Kelebihan ini membuat daya tarik otomatisasi kian seksi di mata perusahaan, karena dapat meningkatkan efisiensi yang menjadi kunci pertarungan bisnis saat ini.

Studi World Economic Forum 2018 juga mendeteksi fenomena peningkatan penggunaan robot untuk menggantikan peran manusia. Salah satu hasil penelitian dari studi ini menunjukkan, jenis pekerjaan terkait mengevaluasi informasi dan  administrasi akan paling cepat digantikan oleh keberadaan robot. Beberapa contoh pekerjaan itu seperti data entry, akuntan, pekerja pabrik, sampai kurir.

Akan tetapi, studi McKinsey dan World Economic Forum sebenarnya juga menyampaikan kabar baik, yaitu munculnya kesempatan kerja baru ketika era robotik mulai mendominasi. Seperti diungkap penelitian McKinsey, otomatisasi akan meningkatkan produktivitas, yang justru membuat roda ekonomi berputar lebih baik. Akan terjadi peningkatan pendapatan utamanya di negara berkembang, membaiknya kondisi kesehatan masyarakat, serta munculnya konsep ekonomi baru yang membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Sementara studi World Economic Forum memperkirakan, akan ada 75 juta pekerjaan yang akan digantikan robot. Namun angka itu lebih sedikit dibandingkan kemunculan 133 juta lapangan pekerjaan baru yang menanti para pencari kerja di masa depan. Beberapa jenis pekerjaan baru yang akan dicari (bahkan saat ini sangat dicari) adalah data analyst, machine learning specialist, atau big data specialist.

Sedangkan menurut McKinsey, pekerjaan di masa depan akan menuntut kreativitas dan kemampuan menganalisis, serta kemampuan emosional dan sosial yang baik. Semua aspek tersebut relatif sulit digantikan mesin, sehingga menjadi pembeda signifikan antara manusia dan mesin.

Dengan kata lain, lapangan pekerjaan di masa depan sebenarnya justru lebih terbuka dengan kehadiran teknologi robot. Akan tetapi, pekerjaan di masa depan membutuhkan keahlian atau skills berbeda dibanding pekerjaan saat ini. Pertanyaan besarnya adalah, apakah kita mampu beradaptasi dan mempelajari skills baru tersebut?

Jika iya, kita akan mendapatkan pekerjaan yang menantang dan memberi imbalan ekonomi yang besar. Namun jika tidak, kita terpaksa pasrah menjadi korban kemajuan teknologi.

Jadi anak muda, jangan takut dengan robot. Lebih baik asah kemampuan agar siap menghadapi era ekonomi baru.

Penulis : Wisnu Nugroho

Sumber : INFO KOMPUTER