Government Resource Planning (GRP) di Indonesia: Apa yang Ada, Hubungan antar Modul GRP, Manfaat, & Permasalahannya?

Government Resources Planning atau GRP adalah sekumpulan modul aplikasi untuk mendukung fungsi-fungsi internal dan layanan publik organisasi pemerintah, mengelola sumber daya pemerintahan, mengintegrasikan aktivitas birokrasi pemerintahan dari hulu sampai hilir (dari perencanaan, belanja, pelaksanaan program, hingga evaluasi), mudah untuk saling diintegrasikan dalam satu sistem informasi. GRP mendukung proses pengumpulan, pemrosesan, pendokumentasian, dan integrasi data menjadi informasi internal dan antar Perangkat Daerah dari berbagai proses bisnis yang didukung oleh GRP. Di beberapa daerah di Indonesia istilah GRP lebih dikenal dengan nama “GRMS” (Government Resource Management Systems” meski nama GRMS saya dengar sudah menjadi nama paten GRP Pemkot Surabaya 🙂

GRP di pemerintahan mirip dengan Enterprise Resource Planning (ERP) untuk bisnis. ERP adalah sebuah software yang berisi modul-modul aplikasi yang mendukung fungsi-fungsi perusahaan.Modul-modul aplikasi ERP dapat dibeli terpisah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan teknis organisasi. Beberapa modul utama ERP mencakup modul: keuangan, sumber daya manusia, perencanaan produksi, pembelian bahan, kontrol persediaan, distribusi, akuntansi, dan marketing. Beberapa fungsi dan modul yang didukung GRP di pemerintah daerah di Indonesia saat ini mencakup: aplikasi pengumpulan aspirasi masyarakat untuk perencanaan pembangunan daerah (Musrenbang), aplikasi manajemen penganggaran daerah (e-Budgeting), aplikasi perencanaan dan monitoring pembangunan daerah (e-Planning), aplikasi perencanaan project (e-Project), lelang online (e-Procurement), e-Delivery, e- Controlling, aplikasi perhitungan kinerja (e-Performance), aplikasi komunikasi dan administrasi, aplikasi inventarisasi, dan aplikasi surat-menyurat (e-Surat).

Hal yang terpenting adalah bahwa pembangunan aplikasi-aplikasi GRP itu sendiri bukanlah tujuan atau sekedar prestise, tujuan pembangunan dan pemilihan modul-modul aplikasi GRP adalah sebagai alat (tools) untuk membantu pencapaian tujuan pemerintah daerah dan membantu perangkat daerah dalam menjalankan fungsi-fungsi administrasi pemerintahan dan layanan publik secara lebih efisien dan efektif yang disesuaikan dengan tupoksi, skalabilitas, aktifivitas, dan lingkungan teknis masing-masing organisasi (Gambar 4).

GRP-tujuan

I. GRP yang ada di Indonesia dan Pengelompokkannya

Berikut ini daftar aplikasi-aplikasi GRP yang ada di berbagai pemerintah daerah di Indonesia, mencakup: Surabaya, Jawa Tengah, Kabupaten Karanganyar, Kota Madiun, Kota Mojokerto, Kabupaten Bojonegoro, Penajam, dan Kutai Timur, serta pengelompokkannya dikumpulkan hingga bulan Oktober 2018 (Tabel 2).

Tabel 2. Contoh GRP dan pengelompokkannya

Kelompok GRP PERENCANAAN1. e-Musrenbang

(Sistem informasi usulan kegiatan pembangunan daerah dari RW, Kelurahan, Kecamatan)

2. e-Pokir

(Aplikasi yang akan di-input masing-masing anggota legislatif sebagai penyampaian aspirasi dari masyarakat secara online untuk kemudian ditindaklanjuti Badan anggaran/bangar untuk di ajukan kepada eksekutif dalam perencanaan APBD).

3. SIPD
(Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah, umumnya dikelola Bappeda)

4. e-Budgetting

(Perencanaan Anggaran Daerah dari paket kegiatan hingga ke item-item pengeluaran, membantu penyusunan APBD)

5. e-Planning

(Sistem perencanaan penganggaran yang fokus pada pada program dan kegiatan beserta capaian, output, outcome dan indikatornya, dan pagu kegiatannya)

6. e-RPJMD

Sistem yang dibuat untuk membantu perumusan RPJMD dan dokumen-dokumen pendukungnya.

Kelompok GRP PELAKSANAAN1. e-Project

(perencanaan pekerjaan dari setiap kegiatan yang telah dianggarkan, rencana umum pengadaan lelang, penunjukan langsung atau swakelola)

2. e-SHB / e-Harga

(sistem informasi daftar, jenis, spesifikasi teknis, dan harga dari barang/jasa sebagai acuan dalam penganggaran)

3. e-Procurement / SPSE LKPP

(proses dan data lelang online setiap paket pekerjaan)

4. e-Delivery / e-Kontrak

(data kontrak pekerjaan, membuat kontrak lebih cepat, data anggaran real, dan memangkas birokrasi)

5. e-Revenue

(Sistem untuk pencatatan pendapatan daerah)

6. e-Payment

(Sistem pencairan dana APBD

7. e-Tax

8. e-Surat

(kemudahan surat-menyurat secara elektronik dengan tanda tangan digital dan verifikasi)

9. e-SPPD

Sistem untuk keperluan pengurusan dan dokumentasi Perjalanan Dinas.

10. e-Absensi / Garbis

(Sistem absensi sidik jari atau telapak tangan dengan analisis kehadiran, keterlambatan, dan prestasi kehadiran)

11. Sistem Informasi Operasi Yustisi

12. e-Health

(antrian, rujukan, catatan riwayat medis pasien di Puskesmas dan RSUD)

13. e-Kios

(informasi, antrian, aplikasi di kelurahan, kecamatan, Perangkat Daerah Layanan,

Puskesmas, RSUD)

14. e-Lampid

(Sistem untuk pengurusan kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk)

15. Intelligent Transport System (ITS)

16. e-Monitoring Penertiban Reklame

17. Sistem Informasi Fasum – Fasos / e-Asset / e-Simbada

(Sistem manajemen barang-barang milik pemda, seperti tanah bangunan, jalan-jembatan, kendaraan, alat-alat, dan sebagainya dilengkapi dengan SIG)

18. e-Monitoring Sampah

19. Surabaya Single Window

(single portal untuk pengurusan perijinan investasi maupun parsial, termasuk monitoring progres berkas)

20. Sistem Informasi Sekolah

(data siswa, guru, informasi sekolah, rapor online tiap siswa, untuk data BOS, BOPDA, TPP, data nominasi dan SMNPTN)

21. Sistem Service Desk

(single point contact sekaligus garda terdepan untuk penanganan permasalahan operasional IT)

22. e-Personnel / Simpeg

(Sistem manajemen pegawai. Mencakup biodata, dan riwayat-riwayat seperti riwayat pendidikan, riwayat penugasan, riwayat jabatan-pangkat, riwayat diklat/kursus/seminar, dan proses mutasi pegawai)

23. Simgakin

(Sistem Informasi untuk pencatatan dan updating data keluarga miskin)

24. Sistem Informasi Jaringan Irigasi

25. Web SIG Jaringan Jalan

26. Web SIG Potensi Daerah

27. Sistem Informasi Profil Desa

Kelompok GRP EVALUASI1. e-Controlling

(Sistem informasi memonitor dan evaluasi pelaksanaan setiap kegiatan)

2. e-Monev

(Sistem informasi yang memuat data target dan realisasi penganggaran seluruh Perangkat Daerah)

3. e-Inspeksi

(Sistem khusus untuk pemantauan dan pengawasan proyek-proyek fisik)

4. e-Audit

5. e-Performance / e-Kinerja

6. e-Monitoring Pelayanan

7. Executive Dashboard

II. Hubungan dan Alur GRP Utama

Dari sekian banyak dan beragamnya aplikasi-aplikasi GRP, terdapat beberapa aplikasi utama yang dibutuhkan setiap pemerintah daerah, baik untuk mendukung fungsi operasional internal pemda maupun untuk mematuhi instruksi lembaga pengawas seperti KPK, BPK, dan BPKP. Aplikasi-aplikasi GRP utama tersebut umumnya menyangkut fungsi perencanaan kegiatan dan keuangan (Gambar 5).

GRP-HubunganPemerintah daerah, dalam hal ini Bappeda, dalam menyusun program-program kerja dalam aplikasi e-Planning membutuhkan masukan dari aplikasi e-RPJMD dan e-Musrenbang. Standar harga diambilkan dari aplikasi e-Harga. Selanjutnya untuk menyusun APBD, Bappeda membutuhkan aplikasi e-Budgeting di mana standar harga diambilkan dari aplikasi e-Harga. APBD yang telah disetujui selanjutnya didetailkan menjadi paket-paket pekerjaan beserta jenis-jenis pengadaannya dengan menggunakan aplikasi e-Project. Guna memperoleh rekanan pelaksana paket pekerjaan ditawarkan di aplikasi e-Procurement yang sudah menjadi aplikasi standar nasional dari LKPP. Pemenang lelang atau rekanan selanjutnya membuat kontrak pekerjaan dengan menggunakan aplikasi e-Kontrak. Selanjutnya data target dan realisasi penganggaran, termasuk pelaksanaan kegiatan, akan dapat dimonitor Bappeda dan Pimpinan Daerah melalui aplikasi e-Monev. Aplikasi e-Planning dan e-Budgeting adalah 2 aplikasi yang diwajibkan oleh KPK bagi seluruh pemerintah daerah di Indonesia untuk mencegah tindak korupsi di pemerintah daerah.

Selain aplikasi GRP untuk perencanaan kegiatan dan keuangan, aplikasi manajemen SDM sangatlah penting untuk memotivasi seluruh pegawai pemda memenuhi unjuk kerja terbaik. Aplikasi-aplikasi manajemen SDM pemda ini adalah e-Kinerja yang akan disupply data-datanya dari aplikasi Simpeg dan e-Absensi, serta beberapa data indikator kinerja setiap individu dari aplikasi  e-Planning, e-Controlling, dan e-Monev. E-kinerja telah terbukti mampu meningkatkan motivasi kerja staf pemerintah daerah sekaligus mengurangi praktek korupsi di lingkungan pemerintah daerah.

Beberapa sistem yang sudah berjalan lama dan berjalan dengan baik biasanya tidak perlu diganti, hanya perlu tambahan program-program antara, untuk pengintegrasian datanya. Misalkan SIPD dengan ebudgeting, ebudgeting dengan Simda/SIPKD, Simpda dengan tepra atau Sirup, dan sebagainya. Integrasi data juga memungkinkan untuk membuat sebuah ringkasan analisis data yang digunakan untuk aplikasi dashboar eksekutif.

III. Contoh Sistem GRP di Negara Lain

Salah satu Negara yang telah menerapkan Government Resources Planning (GRP) adalah Dubai (Gambar 6). Dubai telah menyediakan layanan GRP mencakup modul-modul Manajemen Keuangan, Manajemen Rantai Pasok, Manajemen SDM, Manajemen Penggajian, Manajemen Aset, dan e-learning. Sejalan dengan manfaat penerapan GRP di Indonesia, manfaat GRP di Dubai juga meningkatkan efisiensi, khususnya biaya, karena seluruh organisasi pemerintah menggunakan satu platform yang sama.

GRP-Dubai

Gambar 6. Portal layanan GRP Dubai (http://grpportal.dubai.gov.ae/)

IV. Manfaat & Permasalahan GRP di Indonesia Saat ini

Beberapa manfaat yang telah dirasakan pemerintah daerah yang telah mengimplementasikan GRP diantaranya:

  1. Efisiensi, karena standarisasi biaya dan harga pengadaan yang telah dikelola dengan baik.
  2. Efektif, karena adanya benang merah yang jelas dari perencanaan ke kegiatan dan sistem pengendalian dari kontrak, administrasi keuangan hingga pelaksanaan kegiatan.
  3. Transparan dan akuntabel, di mana semua perencanaan, kegiatan, dan transaksi dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Peningkatan motivasi kerja, khususnya dengan sistem remunerasi yang didukung oleh modul e-Performance.
  5. Penurunan dan pencegahan korupsi, melalui modul penganggaran dan sistem kendali yang ketat, transparan, dan akuntabel.

Beberapa tantangan dalam inisiasi dan implementasi GRP di sebuah pemda, umumnya adalah manajemen perubahan (change management) dari sistem dan kebiasaan manual menjadi sistem digital; ketersediaan data-data digital; integrasi data antara sistem lama, sistem dari pemerintah pusat, dan GRP; penyesuaian proses bisnis sistem lama dengan sistem GRP; dukungan dan komitmen pemimpin daerah dan kepala dinas; dan belum adanya kesadaran audit berkala terhadap GRP yang ada.

GRP apa saja yang telah dibangun di kota/kabupaten anda? Sudahkah GRP kota/kabupaten anda mampu menghasilkan manfaat seperti GRP di kota/kabupaten lain yang e-Government nya berhasil? Apa saja permasalahan yang menghambat potensi manfaat GRP di pemda anda? Silahkan tinggalkan komentar anda untuk saling berbagi ilmu 🙂

———————————————————————————————————————-

Tulisan ini telah terbit sebagai bagian paper di SEMNASTIK 2018 apabila akan anda rujuk sebagai salah satu referensi tulisan anda, mohon mencantumkan sitasi di Daftar Pustaka anda sebagai berikut:
Tony Dwi Susanto (2018), Government Resource Planning (GRP): Peluang dan Tantangannya di Indonesia, Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi (SEMNASTIK), Palembang, 19 Oktober 2018

Cara Budidaya dan Pemeliharaan Ikan Bawal Air Tawar

Budidaya ikan bawal sejak dahulu dan sampai saat ini masih cukup menjanjikan. Seiring melonjaknya permintaan ikan di pasar-pasar di daerah, membuat para peternak ikan bawal juga semakin banyak dan ikut melonjak jumlahnya. Ikan bawal air tawar (colossoma macropomum) adalah salah satu ikan unggulan budi daya perikanan air tawar.

Usaha budidaya ikan bawal ini dimaksudkan untuk memperoleh ikan ukuran konsumsi atau ukuran yang disenangi oleh konsumen. Pembesaran ikan ini dapat dilakukan di kolam tanah maupun kolam permanen, baik secara monokultur maupun polikultur.

Jenis ikan Bawal mempunyai beberapa keistimewaan dan kelebihan, seperti:

  1. Ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik.
  2. Rasa dagingnya pun cukup enak, hampir menyerupai daging ikan Gurami.

Cara Budidaya Ikan Bawal

Langkah-langkah Cara Budidaya Ikan Bawal:

1. Persiapan Kolam untuk budidaya ikan Bawal

Persiapan kolam ikan bawal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan makanan alami dalam jumlah yang cukup. Setelah dasar kolam benar-benar kering, dasar kolam perlu dikapur dengan kapur tohor maupun dolomit dengan dosis 25 kg/100 meter persegi.

Hal ini untuk meningkatkan pH tanah, juga dapat untuk membunuh hama maupun patogen yang masih tahan terhadap proses pengeringan.

Kolam pembesaran tidak mutlak harus dipupuk. Ini dikarenakan makanan ikan bawal sebagian besar diperoleh dari makanan tambahan atau buatan. Tapi bila dipupuk dapat menggunakan pupuk kandang 25 – 50 kg/100 m2 dan TSP 3 kg/100 m2. Pupuk kandang yang digunakan harus benar-benar yang sudah matang, agar tidak menjadi racun bagi ikan.

Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan dibiarkan selama 2-3 hari, kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman awal 40-60 cm dan terus diatur sampai ketinggian 80-120 cm tergantung kepadatan ikan. Jika warna air sudah hijau terang, baru bibit ikan ditebar (biasanya 7~10 hari setelah pemupukan).

2. Pemilihan dan penebaran benih ikan bawal

Hanya dengan benih yang baik, ikan bawal akan hidup dan tumbuh dengan baik. Penebaran benih Sebelum benih ditebar perlu diadaptasikan, dengan tujuan agar benih ikan tidak dalam kondisi stres saat berada dalam kolam.

Cara adaptasi : ikan yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat dimasukan kedalam kolam, biarkan sampai dinding plastik mengembun.
Ini tandanya air kolam dan air dalam plastik sudah sama suhunya, setelah itu dibuka plastiknya dan air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit kedalam plastik tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik. Selanjutnya benih ditebar dalam kolam ikan secara perlahan-lahan.

3. Kualitas Pakan Dan Cara Pemberian Ikan Bawal

Hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral.

Karena ikan bawal bersifat omnivora maka makanan yang diberikan bisa berupa daun-daunan maupun berupa pelet. Pakan diberikan 3-5 % berat badan (perkiraan jumlah total berat ikan yang dipelihara). Pemberian pakan dapat ditebar secara langsung.

4. Panen Hasil Ikan Bawal

Panen hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan bawal dipelihara 4-6 bulan, waktu tersebut ikan telah mencapai ukuran kurang lebih 500 gram/ekor, dengan kepadatan 4 ekor/m2.

Biasanya alat yang digunakan berupa waring bemata lebar. Ikan hasil pemanenan sebaiknya penampungannya dilakukan ditempat yang luas (tidak sempit) dan keadaan airnya selalu mengalir.

(Sumber : Bibitikannet)

Proses Pembenihan Ikan Bawal Air Tawar

Ikan bawal adalah salah satu jenis ikan budi daya air tawar yang banyak digemari masyarakat kita. Ukuran yang besar, rasa yang gurih, dan duri yang tidak begitu banyak adalah beberapa keunggulan mengapa ikan bawal menjadi pilihan para konsumen. Semakin tingginya permintaan terhadap ikan bawal air tawar, kita mempunyai peluang usaha dengan memproduksi benih-benih ikan bawal untuk dibesarkan sendiri maupun dijual ke orang lain.

Berikut adalah proses pembenihan ikan bawal.

Memilih Induk Ikan Bawal

Kita dapat  membesarkan induk ikan bawal sendiri ataupun membeli indukan yang sudah siap untuk dipijahkan. Jika Kita memutuskan untuk membeli, maka belilah dari lembaga-lembaga pemerintah supaya kualitasnya terjamin.

Berikut adalah ciri-ciri indukan ikan bawal yang baik:

  • Bentuk tubuh induk betina melebar dan pendek, sedangkan bentuk tubuh induk jantan lebih langsing.
  • Warna kulit induk betina lebih gelap, sedangkan warna kulit induk jantan kemerah-merahan.
  • Perut induk betina lembek dan perut induk jantan kasar.

Perawatan Induk Ikan Bawal

Biasanya indukan bawal siap untuk dipijahkan ketika berumur empat tahun untuk induk betina dan tiga tahun untuk induk jantan. Ciri-ciri dari induk betina yang telah siap untuk dipijahkan yaitu lubang kelaminnya berwarna merah. Kemudian untuk induk jantan, kita dapat  mengetesnya dengan memijit atau mengurut bagian di sekitar kelaminnya. Jika mengeluarkan sperma berarti ikan sudah siap untuk membuahi telur. Perawatan induk harus disendirikan di dalam kolam perawatan dan terpisah antara induk jantan dan betina agar terhindar dari pemijahan liar dimana hasilnya akan tidak optimal.

Jumlah indukan sebaiknya disesuaikan dengan luas kolam. Perbandingan yang ideal yaitu sekitar tiga kilogram indukan per meter persegi. Untuk meningkatkan kualitas induk ikan bawal, sebaiknya ikan diberi pelet yang banyak mengandung protein pada pagi, sore, dan malam hari. Selanjutnya jika gonad sudah matang dan ikan menunjukan tanda-tanda seperti di atas pada alat kelaminnya, maka kita harus siap memijah induk betina dan induk jantan di dalam kolam pemijahan.

Proses Pemijahan Induk Ikan Bawal

Pemijahan dapat  dilakukan dengan kakaban dan untuk hasil yang optimal, diperlukan campur tangan kita. Agar proses pemijahan lebih cepat, maka ikan betina kita suntik dengan ovaprim atau kelenjar hipofisa ikan lele atau ikan mas. Selanjutnya ikan dibiarkan di dalam kolam hingga memijah sendiri.

Selain itu, ada juga peternak yang mengurut ikan setelah disuntik supaya telur lebih cepat keluar dan sperma ikan jantan juga segera keluar untuk membuahi telur. Wadah atau kolam untuk pemijahan tersebut sebaiknya berukuran tidak terlalu besar dan airnya dibuat mengalir ringan.

Proses Penetasan Telur Ikan Bawal

Setelah proses pemijahan berjalan dengan lancar, selanjutnya telur-telur yang sudah dibuahi harus kita ambil dengan alat yang bernama scoopnet dan dipindahkan ke kolam penetasan dan pemeliharaan, dapat  berupa akuarium. Untuk memudahkan proses pemeliharaan, sebaiknya proses penetasan dilakukan di dalam akuarium yang ukurannya cukup besar untuk sekaligus memelihara larva ikan hingga siap untuk dijadikan bibit.

Telur biasanya akan segera menetas dalam waktu sekitar 20 jam. Ketika mulai menetas, kita harus mengupayakan supaya telur tidak mengendap karena dapat  berujung pada kegagalan menetas.

Pemeliharaan Larva Ikan Bawal

Perbandingan ukuran kolam atau akuarium yang digunakan untuk penetasan dengan jumlah ikan sebaiknya adalah satu liter air per 99 ekor larva. Kemudian setelah berumur tujuh hari maka ikan harus dipindahkan lagi ke kolam yang lebih besar, perbandingannya yaitu kira-kira satu liter air per 6 ekor larva. Pemberian pakan berupa pelet yang direndam terlebih dahulu dilakukan kepada ikan ketika mereka telah berumur 30 hari. Selama pendederan hingga masa panen, kita harus selalu memantau kondisi ikan dan melakukan penyortiran untuk mendapatkan hasil panen bibit bawal yang bagus.

Sumber : Bibitikannet