oleh

Pendederan Gurami Sistem RAS, Naikkan Pendapatan 155 Kali Lipat

Foto: dok.DJPB-KKP

Jakarta –  Recirculation aquaculture system (RAS) meningkatkan padat tebar secara fantastis, masa pendederan hanya 30 hari untuk mencapai ukuran 2 – 4 cm (sistem konvensional butuh 50 hari), pendapatan naik 155 kali lipat.

Pendederan benih gurami sistem RAS ini telah diuji Tim Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, dan sekaligus diterapkan pada produksi benih gurami untuk mencukupi kebutuhan benih gurami di Provinsi Sulawesi Utara.

Kepala BPBAT Tatelu, Fernando J Simanjuntak melalui keterangan tertulis pada 17/5 menyebutkan penerapan RAS ini memang ditujukan untuk meningkatkan padat tebar benih, kelangsungan hidup / sintasan, keseragaman dan laju pertumbuhan..

Jika dikomparasi dengan sistem konvensional, pendederan ikan gurami dengan teknologi RAS dapat meningkatkan padat tebar hingga 28 – 30 ekor per liter, sedangkan sistem konvensional padat tebar hanya 0,2 ekor per liter.

Masa pemeliharaan benih juga relatif lebih pendek yaitu 30 hari telah mencapai ukuran 2 – 4 cm, dengan tingkat kelulusan hidup mencapai 95% dan tingkat keseragaman ukuran hingga 90%.  Dalam sistem konvensional, waktu pemeliharaan mencapai 50 hari, kelulusan hidup hanya 60% dan keseragaman ukuran 80%. Produktivitas produksi dengan teknologi RAS naik hingga 140 kali lipat dibanding konvensional.

 

Teknik RAS

Lebih teknis, Fernando menjelaskan komponen RAS yang digunakan terdiri dari wadah pemeliharaan, tabung filter, lampu UV, reservoir dan heater (pengatur suhu) serta pompa air.

Filter akan berfungsi sebagai unit pembersihan dan perbaikan kualitas air, kemudian tempat berkembangnya bakteri pengurai amonik sisa pakan dan feses atau sisa metabolisme lainnya.

“Tabung filter dan UV terbagi atas 2 (dua) yaitu 2 (dua) filter kimia yaitu 75% zeolit dan 25% arang aktif dan 1 (satu) filter biologi yaitu dengan penggunaan bioball,ungkapnya.

Wadah pemeliharaan benih dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan telah terintergrasi dengan sistem resirkulasi. Sedangkan reservoir, heater dan pompa air berada diluar wadah pemeliharaan ikan.

Secara ekonomi usaha pendederan ikan gurami dengan teknologi RAS sangat menguntungkan. Dengan biaya investasi untuk wadah pemeliharaan berupa container plastik ukuran 47 cm x 65 cm x 40 cm sebanyak 18 buah. Kemudian pembelian rak besi, bak reservoir, tabung filter, media filter (zeolit dan arang aktif), pompa, lampu UV dan heater membutuhkan biaya sebesar Rp 33,6 juta, dengan biaya penyusutan per siklus (2 bulan) sebesar Rp 1,2 juta.

Sedangkan untuk operasional sebesar Rp 14 juta per siklus untuk pembelian telur gurami, cacing sutera, obat-obatan dan biaya listrik.

Pada penebaran telur gurami sebanyak 30.000 butir, dihasilkan benih gurami ukuran 2 – 4 cm sebanyak 25.500 ekor per siklus.  Jika harga per ekornya adalah Rp 2 ribu, maka penghasilan setiap kali siklus adalah Rp 51 juta.

“Keuntungan per siklus sebesar Rp 34,5 juta selama 2 bulan, sedangkan keuntungan setahun mencapai Rp 207 juta. Ini sangat menguntungkan secara ekonomi karena pay back periode (waktu pengembalian modal) hanya ± 0,7 tahun,” sebut Fernando.

Dilihat dari variabel air, Fernando menjelaskan pendapatan pembenihan gurami dengan teknologi RAS mampu mencapai Rp 49.000 per liter air dalam wadah budidaya. Pada sistem konvensional pendapatan dari perliter air budidaya hanya Rp 317. Peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 155 kali lipat. Hal ini dimungkinkan karena padat tebar dengan teknologi RAS jauh lebih tinggi.

Dia menyimpulkan, pemanfaatan teknologi RAS pada pembenihan ikan terbukti jauh lebih efisien dalam penggunaan air dan lahan dibandingkan sistem konvensional. ist/meilaka

(SUMBER : TROBOSAQUA.COM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed