oleh

Budidaya Nila Bioflok, Hasilkan Rp 24 Juta Persiklus dari 10 Kolam Mini

Jakarta –  Budidaya ikan nila sistem bioflok pada 10 petak kolam mini kapasitas 15 m3 mampu menghasilkan keuntungan Rp 24 juta per siklus (3 bulan).

Syamsul Bahari ketua kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Indra Makmur Sukabumi, menuturkan di Jakarta pada Kamis (9/5), ikan nila yang dihasilkan sistem bioflok juga lebih gemuk dengan komposisi daging (karkas) lebih banyak serta kandungan air dalam daging lebih sedikit.

Dia merinci biaya investasi yang dikeluarkannnya yakni untuk pembuatan kolam beton ukuran 15 m3 sebesar Rp 2 juta dan pompa air Rp. 500 ribu. Sedangkan biaya operasional terdiri dari pemmbelian benih sebanyak 1.500 ekor, pakan 283,5 kg dan probiotik dan molases (tetes tebu) sebanyak 3 liter, serta biaya listrik, sehingga total biaya operasional sebesar Rp 3,9 juta.

Dengan periode pemeliharaan selama 3 bulan produksi nila yang dapat diperolehnya mencapai sebanyak 270 kg, dengan ukuran panen 200 gr per ekor. Jika harga per ekor Rp 26 ribu maka pendapatan kotor sebesar Rp 7 juta.

“Keuntungan bersih budidaya ikan nila sistem bioflok yang  saya peroleh dari setiap kolam mencapai Rp 3,1 juta per siklus. Saya memiliki 10 unit kolam dengan rincian 2 bak tandon dan 8 kolam budidaya. Sehingga pendapatan bersih selama periode budidaya yang saya lakukan dapat mencapai Rp 24,8 juta,” sambungnya.

Pada kesempatan itu, Dirjen Perikanan Budidaya kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto menyatakan tingkat penggunaan pakan pada budidaya nila sistem bioflok dapat ditekan hingga 1,05. Artinya untuk menghasilkan 1 kg ikan nila hanya dibutuhkan 1,05 kg pakan.

Angka ini menurun drastis jika dibandingkan dengan pemeliharaankonvensional yang angka FCR-nya mencapai 1,5. Sehingga sistem ini mampu menghemat pakan hingga 30%. Kepadatan tebar  juga meningkat tajam, yakni sebanyak 100 ekor/m3 atau 10 kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional hanya 10 ekor/m3.

Syamsul juga bercerita bahwa air media budidaya hanya sekali dimasukkan ke petakan kolam budidaya dan dapat digunakan sampai panen. Penambahan air hanya untuk mengganti penguapan dan pengontrolan kepadatan.

Slamet menjelaskan produksi ikan nila secara nasional cukup menggembirakan karena terus meningkat. Produksi tahun 2016 sebesar 1.114.156 ton, sedangkan tahun 2017 meningkat menjadi 1.265.201 ton. Produksi hingga triwulan III tahun 2018 tercatat 579.688 ton.

Sentra budidaya ikan nila di Indonesia diantaranya Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Utara dan Sumatera Utara, dimana secara berurutan pada tahun 2017 produksinya yakni 344.583,06 ton; 160.594,19 ton; 114.391,16 ton; 91.571,39 ton; dan 51.228,37 ton. meilaka

(SUMBER : TROBOSAQUA.COM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed